MENTAL BUDAK VS RAJA?

MENTAL BUDAK VS RAJA?

Firman Tuhan      : 2 Raja-raja 5: 6-8

Segera sesudah raja Israel membaca surat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya serta berkata: “Allahkah aku ini yang dapat mematikan dan menghidupkan, sehingga orang ini mengirim pesan kepadaku, supaya kusembuhkan seorang dari penyakit kustanya? Tetapi sesungguhnya, perhatikanlah dan lihatlah, ia mencari gara-gara terhadap aku.” . (2 Raja-raja 5:8)

 

Kita sering mendengar ungkapan “mental kuli” yang biasanya berkonotasi negatif, yaitu pekerja yang bekerja dengan baik jika diawasi oleh atasan (mandor). Ada juga kontradiksi lainnya yaitu mental pemenang (victor) vs pecundang (victim). Namun kali ini kita belajar dari mentalitas seorang budak kecil dibandingkan raja besar.

Budak perempuan anonim dalam kisah Naaman hanya tercatat mengucapkan satu kalimat, “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.” Satu kalimat dari budak kecil dari bangsa asing, namun bisa meyakinkan nyonya majikan, panglima perang terkemuka bahkan raja Aram. Gadis yang sudah jauh dari negaranya namun masih ingat pada nabi Elisa dan mujizat-Nya. Padahal di pasal sebelumnya hanya beberapa mujizat Elisa yaitu minyak seorang janda nabi dan perempuan Sunem yang memiliki anak, lalu meninggal dan dihidupkan. Maut dalam kuali para nabi serta beberapa porsi makanan bagi 100 orang. Betapa mendarah dagingnya “iman” bocah kecil ini. Tentu nyonya majikan dan Naaman sudah memverifikasi data tentang Elisa, apa saja “kehebatan” nabi Elisa hingga mereka percaya pada gadis itu. Mental gadis kecil ini luar biasa, masih kanak-kanak, jauh dari bangsanya, sendirian, terhina, terpenjara, menjadi budak yang sangat rendah derajat dan hampir tidak punya hak sesuai konteks zaman saat itu. Penderitaan tidak membuatnya lupa pada sang nabi dan mujizat-Nya. Dia “move on” tetap berpikir positif, peduli, berani menyuarakan kebenaran, dan mempertanggungjawabkan data presentasi dan imannya pada Allah Israel.

Sebaliknya raja Israel adalah orang dewasa, terdidik, penguasa dengan berbagai hak, dan hidup “berdampingan” dengan nabi Elisa di Israel selama bertahun-tahun. Namun saat ada surat raja Aram, tidak ada setitikpun iman seperti budak kecil tersebut. Raja itu negative thinking dalam hidupnya. Pikirannya dipenuhi prasangka dan ketakutan. Pada akhirnya dalam narasi Naaman diapun tidak disebut setelah kasus itu diambil alih nabi Elisa.

Mentalitas kita terbentuk antara lain oleh pengalaman dan keputusan kita yang berakar dari iman pada Yesus. Kita bisa mengalami tekanan, kesulitan, bahkan penghinaan, namun bersama Yesus kita akan dimampukan menjalani dengan sabar dan menuai kemenangan. Mentalitas seperti apa yang kita rindukan terbentuk pada generasi mendatang, para mahasiswa, para alumni bahkan para pemimpin Kristen saat ini? Mari kita bergandeng tangan membangun daya ingat iman, daya nalar iman, ketulusan, kepedulian, dan keberanian menyuarakan serta melakukan kebenaran yang akan menjadikan Nama Tuhan semakin ditinggikan.

Inspirasi: Mentalitas yang dibangun atas dasar pengalaman iman pada Kristus pasti berbuah manis.

LPMI/RM Wahju Djatikoesoemo, S.Pd.

share

Recommended Posts