3 GRADE DOSA: KAIN, BILEAM, DAN KORAH

3 GRADE DOSA: KAIN, BILEAM, DAN KORAH

Firman Tuhan: Yudas 1: 3-16

Celakalah  mereka,  karena  mereka  mengikuti  jalan  yang  ditempuh  Kain     dan  karena mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan     Bileam, dan mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah. (Yudas 1: 11)

Ketika  kasus  korupsi besar terbongkar,  kita semua terhenyak.  Bagaimana mungkin sekian puluh kilo emas, sekian milyar uang terkumpul? Semua tidak berlangsung tiba-tiba, korupsi dan kejahatan tentu berjenjang sedikit demi sedikit dan terhubung dengan banyak pihak (bisa terdeteksi awal atau tidak) hingga menjadi bukit kriminal yang “spektakuler”.

Yudas saudara Yesus memerinci satu kalimat yang mendalam dalam hubungan dengan guru palsu dan penyesatan umat Tuhan. Celakalah siapa yang berbuat demikian. Kata οὐαί bukan sekadar  berkata, “Kasihan.”  Tetapi  lebih  dekat  kepada  “Mereka  sedang  menuju hukuman Allah.” Kata ini berkali-kali dipakai nabi Yesaya, Yeremia, Amos. Yesus juga menggunakannya terhadap orang Farisi, “Celakalah kamu…” (Mat. 23). Yudas memakai bahasa para nabi untuk perspektif sejarah PL dengan menyebut 3 nama yaitu Kain, Bileam dan Korah. Bagaimana karakter ketiganya dalam proses tindakan keberdosaan manusia?

Jalan Kain. Kata hodos (jalan), dalam budaya Yahudi berarti pola hidup, cara berpikir, gaya hidup, arah moral seseorang. Mazmur 1 memakai konsep yang sama. Amsal juga demikian. Jadi Yudas tidak mengatakan mereka menjadi Kain. Tetapi Mereka memilih cara hidup  seperti  Kain  (eporeuthēsan) berarti  “dengan  sadar  memilih  hidup  di  jalan  Kain.”

Karakter dosa Kain berkembang berurutan berikut: korban yang salah, iri, marah, menolak teguran Tuhan,  membunuh,  berbohong,  dan  keras  hati.  Jadi  akar  dosa  Kain  bukan pembunuhan namun ibadah tanpa ketulusan hati.

Kesesatan Bileam. Kata plaun  (kesesatan, penyimpangan, penyesatan), akar katanya Planao membuat seseorang keluar dari jalan yang benar. Guru palsu membuat orang keluar dari  orbit  kebenaran.  Secara harfiah  “kesesatan  Bileam  karena  upah”.  Jadi  motivasi utamanya adalah uang. Jika Kain berbicara tentang hati maka Bileam berbicara tentang motivasi pelayanan. Ia mengetahui kehendak Allah, tetapi berulang kali mencoba mencari celah agar tetap memperoleh keuntungan. Ketika tidak dapat mengutuk Israel secara langsung, ia membuka jalan bagi Israel untuk jatuh melalui kompromi (Bil. 31:16).

Kedurhakaan  Korah.  Kata antilogia  (anti:  melawan  dan  logos:  perkataan,  ajaran, otoritas), secara harfiah berbicara menentang, membantah, memberontak. Ini bukan sekadar tidak setuju, tetapi menolak otoritas Allah. Korah memulai dengan pertanyaan yang tampak rohani: “Bukankah seluruh umat itu kudus?” (Bil. 16:3) Kalimat ini mengandung sebagian kebenaran, tetapi dipakai untuk menolak penetapan Allah atas Musa dan Harun. Pemberontakannya berbahaya dan licik, membungkus ambisi pribadi dengan bahasa rohani.

Ketiga fenomena dosa tersebut bisa muncul dalam berbagai bentuk. Jalan Kain muncul ketika aktif melayani tetapi sulit menerima koreksi, iri melihat keberhasilan orang lain, sibuk membangun citra rohani daripada membangun karakter, membandingkan diri dan persaingan yang tidak sehat. Bentuk “roh Bileam” dapat muncul ketika pelayanan dijadikan sarana membangun merek pribadi (personal branding) bukan untuk kemuliaan Kristus. Ukuran keberhasilan ditentukan jumlah pengikut, popularitas, atau keuntungan bukan kesetiaan pada

Tuhan. Pengajaran hanya menyenangkan telinga, tetapi kehilangan kebenaran. Sikap Korah muncul sebagai penolakan segala bentuk pertanggungjawaban rohani karena merasa “cukup diajar langsung oleh Tuhan”. Kritik sehat justru berubah menjadi sarana untuk menjatuhkan

dan memecah belah, kebebasan berpendapat dipakai untuk mengabaikan kerendahan hati. Mari berhati-hati dengan jalan Kain, kesesatan Bileam dan kedurhakaan Korah. Tidak ada manusia yang kebal dosa dan godaan, namun penyertaan Roh Kudus menjadi jaminan yang penuh kuasa.

Inspirasi: Hanya Allah yang mampu melindungi kita dari berbagai bentuk dosa.

LPMI/RM Wahju Djatikoesoemo, S.Pd.

share

Recommended Posts